Sabtu, 18 Juni 2016

yang Takku Rencanakan

Aku tak pernah berencana untuk jatuh cinta apalagi memilih kamu untuk ku cintai. Seperti aku tak pernah memilih di rahim mana aku mau dilahirkan. Tiba-tiba saja aku tahu, ia ibuku. Hangat dan aman.

Aku tak pernah berencana untuk sakit hati apalagi bersiap-siap. Seperti kau memotong wortel dan tak sengaja jari mu teriris. Dan ingin saja kamu membeli penutup luka tapi tak tahu siapa dan di mana saja benda itu dijual. Kau memilih menyerah dan waktu mengeringkan lukamu. Kau abai, lalu lupa, tetapi sembuh.

Aku tak akan berencana untuk mencari-cari lagu untuk menemaniku menemui kehampaan. Aku menjadi malas. Seperti kopi yang ku tinggal sejak tadi malam: hitam, pekat, dan dingin.

Sial, 
Aku tak pernah berencana untuk menulis seperti ini.

Pada Suatu Ngawur

Pada suatu semesta, turunlah seseorang bernama Mada. Telanjang bulat, tetapi belum tahu arti telanjang. Ia berjalan bertahun-tahun. Pada suatu hari, ia bertemu Awah yang sedang telanjang. Tetapi, bukan kata telanjang yang muncul pertama kali. Siapa kau?. Tanya yang tepat. Mereka bersamaan, tetapi bersamaan juga membiarkan lawan menjawab. Hening tercipta. Mata menata tatap. Mulut membuka, tetapi tidak dengan suara. Pertanyaan pertama terlewat. Apa itu? Tunjuk Mada pada sepasang buah serupa pir pada dada Awah. Ia meraba sepasang buahnya itu. Lalu tangan kanan menutupnya, tangan kiri lalu menunjuk. Mada perlahan menutup batang yang menggantung pada selangkangannya. Mereka saling membelakangi dan mencari pohon.

Pohon itu. Mereka ambil selembar daunnya
yang besar dan melebar.
yang hijau dan kilau
bertugas menutup yang ditunjuk itu.

Terjaga

semua catatan mu
adalah malam dan tanya
: pukul berapa sekarang?

pada pekat,
kau telah tertumpah gairah
tersesat
dan lupa berziarah