Matamu adalah seribu bahasa,
aku diam
dan jatuh cinta
Senin, 27 Juni 2016
Minggu, 26 Juni 2016
[Belum Ada Judul]
/1/
semasa kecil dulu,
semasa kecil dulu,
ibu membawaku ke tukang foto
untuk foto kematian.
"Ibu, aku belum mau mati.
aku masih ingin keringat ibu."
ia tersenyum, lalu menyuruhku
tersenyum ketika di foto.
cheez!
ibu mencetaknya sebesar setengah
tubuh ku.
aku jadi teringat
permintaan guruku,
"Mas, cetak juga pas foto
untuk ijazah sd ku, ya."
cheez!
ibu mencetaknya sebesar setengah
tubuh ku.
aku jadi teringat
permintaan guruku,
"Mas, cetak juga pas foto
untuk ijazah sd ku, ya."
*
/2/
Pagi ini, aku mengumpulkan keringat
untuk ibu, katanya, ia suka.
ku kumpulkan sebanyak yang ku bisa.
tapi dasar sial, aku ditabrak becak
dan truk melindas kepalaku,
mata ku meloncat, seperti bola pimpong
crot-nya kemana-mana.
Aduh, ibu sedang menunggu.
ia pasti haus setengah mati
di dalam kuburnya.
Sabtu, 25 Juni 2016
Sebuah Ego
Aku tak terlalu yakin dengan puisi ini.
Ia terburu-buru, tetapi tak pernah selesai.
Ia mencintai dirinya sendiri
sepanjang kau membacanya.
Pada pagi hari ia mengetuk jendelamu
agar kau lekas bangun dan menyikat gigi.
Ia ingin membuatmu
melakukan hal-hal yang sederhana
yang tak bisa ia lakukan
: mencintai puisi lain.
Ia terburu-buru, tetapi tak pernah selesai.
Ia mencintai dirinya sendiri
sepanjang kau membacanya.
Pada pagi hari ia mengetuk jendelamu
agar kau lekas bangun dan menyikat gigi.
Ia ingin membuatmu
melakukan hal-hal yang sederhana
yang tak bisa ia lakukan
: mencintai puisi lain.
Langganan:
Postingan (Atom)